Oleh; Eris herisno
Seri ke 10
Jangan dikira karena selalu konsenterasi
pada pekerjaannya, kemudian para pebisnis Mukmin melupakan makhluk Allah yang
Agung ini. Perempuan!.
Walau
terbatasnya waktu, sibuknya berada di lorong-lorong dan sempitnya mengurai
imajinasi, para pebisnis pasti menyediakan ruang lain untuknya. Selain karena
sudah fitrah, juga karena perempuan memiliki keistimewaan-keistimewaan yang
unik.
Memang, keberadaan Perempuan bisa menjadi
duri dalam melaksanakan tugas bisnis, tapi Ia juga bisa menjadi energi. Bisa
menjadi penghambat, juga bisa menjadi pendorong. Bisa menjadi pembunuh
imajinasi, bisa juga menjadi pemicu lahirnya karya monumental. Semuanya
tergantung kepada sikap kita, karena bagaimanapun Ia adalah manusia biasa yang
punya keterbatasan. Seandainya kita mampu menempatkannya dalam bingkai cinta
sejati, percayalah! Pasti kita akan mendapat kekuatan baru yang maha dahsyat. “Perempuan,”
kata Anis Matta, ”adalah penyangga spiritual”. Itulah sebabnya kenapa Rasulullah SAW
selalu membawa salah satu isterinya ketika pergi ke medan pertempuran. “Laki-laki menumpahkan energinya
di luar rumah dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya” Kata
Anis lagi.
Energi perempuan adalah kelembutan, kasih
sayang, kedamaian batin, dan kesetiaan. Namun, jika kita menempatkannya ke
bingkai lain yang hampa cinta. Bukan kelembutan, tapi kekerasan yang kita
rasakan. Bukan kasih sayang, tapi kebencian. Bukan kedamaian, tapi keresahan. Dan
bukan kesetiaan, tapi penghianatanlah yang kita dapatkan. Sebagai contoh, cukuplah
bagi kita kisah tentang orang-orang yang hancur meraih sukses bisnis gara-gara
salah menempatkan posisi perempuan, dan larut dalam lautan nista yang menggoda.
Sekali lagi. Akan menjadi kekuatan positif
atau negatifnya perempuan, semua tergantung bagaimana kita memposisikan.
Sekarang, ada satu hal yang perlu kita
catat atau kita renungkan yaitu; Sukses yang diraih kebanyakan para pebisnis
mukmin, ternyata terbantu oleh energi dan pesona perempuan, baik dengan
menjadikannya sebagai mitra bisnis, walau berada di luar jangkauan cinta
sejatinya, atau sebagai isteri dan diam di dalam ruang dekapannya.
Ada
satu hal lagi yang sedikitpun tak bisa kita pungkiri, bahwa peerjalanan panjang
sang pebisnis mukmin mengolah imajinasi sampai menjadi karya besar, ternyata
kebanyakannya tak terlepas dari peran
aktif perempuan. Ia malah sengaja memupuknya sehingga tumbuh subur, berkembang
dan berbuah. Sampai bukan hanya sekali dua kali memetik dan merasakan
kenikmatannya, tapi beratus-ratus kali!
Sekarang mari kita bertanya, Sudahkah
kita memposisikan perempuan sebagai mana mestinya?, dimana ia ditempatkan di
ruangan yang sejuk penuh cinta kasih dan sesak oleh napas-napas gairah?, serta
ia pun kuyup dalam kubangan suka cita?
Ataukah sebaliknya, kita malah
menjadikannya sebagai pajangan di etalase kehidupan yang hanya sebagai hiasan
dan menggantinya manakala ia tak menarik lagi?
Di
antara kita mungkin -atau pasti- ada seperti yang terakhir ini!.
Bahkan, mungkin anda!!.
Oleh; Eris herisno
Seri ke 10
Jangan dikira karena selalu konsenterasi
pada pekerjaannya, kemudian para pebisnis Mukmin melupakan makhluk Allah yang
Agung ini. Perempuan!.
Walau
terbatasnya waktu, sibuknya berada di lorong-lorong dan sempitnya mengurai
imajinasi, para pebisnis pasti menyediakan ruang lain untuknya. Selain karena
sudah fitrah, juga karena perempuan memiliki keistimewaan-keistimewaan yang
unik.
Memang, keberadaan Perempuan bisa menjadi
duri dalam melaksanakan tugas bisnis, tapi Ia juga bisa menjadi energi. Bisa
menjadi penghambat, juga bisa menjadi pendorong. Bisa menjadi pembunuh
imajinasi, bisa juga menjadi pemicu lahirnya karya monumental. Semuanya
tergantung kepada sikap kita, karena bagaimanapun Ia adalah manusia biasa yang
punya keterbatasan. Seandainya kita mampu menempatkannya dalam bingkai cinta
sejati, percayalah! Pasti kita akan mendapat kekuatan baru yang maha dahsyat. “Perempuan,”
kata Anis Matta, ”adalah penyangga spiritual”. Itulah sebabnya kenapa Rasulullah SAW
selalu membawa salah satu isterinya ketika pergi ke medan pertempuran. “Laki-laki menumpahkan energinya
di luar rumah dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya” Kata
Anis lagi.
Energi perempuan adalah kelembutan, kasih
sayang, kedamaian batin, dan kesetiaan. Namun, jika kita menempatkannya ke
bingkai lain yang hampa cinta. Bukan kelembutan, tapi kekerasan yang kita
rasakan. Bukan kasih sayang, tapi kebencian. Bukan kedamaian, tapi keresahan. Dan
bukan kesetiaan, tapi penghianatanlah yang kita dapatkan. Sebagai contoh, cukuplah
bagi kita kisah tentang orang-orang yang hancur meraih sukses bisnis gara-gara
salah menempatkan posisi perempuan, dan larut dalam lautan nista yang menggoda.
Sekali lagi. Akan menjadi kekuatan positif
atau negatifnya perempuan, semua tergantung bagaimana kita memposisikan.
Sekarang, ada satu hal yang perlu kita
catat atau kita renungkan yaitu; Sukses yang diraih kebanyakan para pebisnis
mukmin, ternyata terbantu oleh energi dan pesona perempuan, baik dengan
menjadikannya sebagai mitra bisnis, walau berada di luar jangkauan cinta
sejatinya, atau sebagai isteri dan diam di dalam ruang dekapannya.
Ada
satu hal lagi yang sedikitpun tak bisa kita pungkiri, bahwa peerjalanan panjang
sang pebisnis mukmin mengolah imajinasi sampai menjadi karya besar, ternyata
kebanyakannya tak terlepas dari peran
aktif perempuan. Ia malah sengaja memupuknya sehingga tumbuh subur, berkembang
dan berbuah. Sampai bukan hanya sekali dua kali memetik dan merasakan
kenikmatannya, tapi beratus-ratus kali!
Sekarang mari kita bertanya, Sudahkah
kita memposisikan perempuan sebagai mana mestinya?, dimana ia ditempatkan di
ruangan yang sejuk penuh cinta kasih dan sesak oleh napas-napas gairah?, serta
ia pun kuyup dalam kubangan suka cita?
Ataukah sebaliknya, kita malah
menjadikannya sebagai pajangan di etalase kehidupan yang hanya sebagai hiasan
dan menggantinya manakala ia tak menarik lagi?
Di
antara kita mungkin -atau pasti- ada seperti yang terakhir ini!.
Bahkan, mungkin anda!!.
>b:else/>
baca selengkapnya......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar