CINTA…
Oleh; eris Herisno
Seri ke 11
“Jeng Lies, aku cinta padamu. Nanti kalau
perang sudah usai. Dan… kita akan membuat mahligai. Tak terlalu tinggi
cita-citaku. Impianku kita punya rumah di atas gunung. Jauuuuh dari
keramaian…”.
Ini bukan puisi. Bukan pula sajak yang sering ditulis oleh para penyair.
Tapi ini adalah sepotong surat cinta dari sang pahlawan kita, -Bung Tomo- untuk
‘Sulistina’ yang dikemudian hari menjadi Isterinya.(dikutip dari majalah
Tarbawi edisi khusus)
Ada banyak surat cinta dari para pahlawan
yang tak bisa saya ungkap semuanya disini. Tapi ‘inti’ yang perlu kita catat adalah sebuah fakta,
bahwa; Cinta bukan hanya milik para penyair seperti Chairil Anwar dengan
puisinya yang terkenal ‘Aku’. Bukan pula milik Kahlil Gibran, Sastrawan ulung
yang dengan tulisan-tulisan sepektakuler-nya mampu memukau semua manusia di
berbagai belahan bumi. Cinta milik semuanya. Termasuk saya dan anda.
”cinta itu anugerah, maka berbahagialah” Kata Doel Sumbang,
Para pahlawan, politikus, pekerja, penyanyi,
Dai, pemimpin, karyawan, dan lain-lain, semua memiliki kalimat yang agung ini.
Termasuk juga disini, para pebisnis!!.
Cobalah simak sepotong puisi karya
Maulana Jalaluddin Rumi:
Cinta adalah lautan tak bertepi
Langit hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah! Langit berputar karena
gelombang cinta
Andai tak ada cinta, dunia ini akan
membeku…..
Kalau saja Napoleon tidak menceraikan isteri
yang sangat dicintai, hanya karena ingin ada satu pewaris Kerajaannya, mungkin
tak akan ada bencana dan kekalahan. “Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap
keadilan akan datang” kata Iwan Fals..
“Hari
ini”, kata Sidney, “marilah kita tambahkan sedikit cinta”.
Cinta, tidaklah harus ditujukan pada
perempuan, karena cinta, “adalah lautan tak bertepi”. Ia ada
dimana-mana. Perempuan butuh cinta, pekerjaan juga butuh cinta, dan
barang-barang yang kita jual juga membutuhkan cinta.
Cinta adalah gelombang dahsyat yang
merupakan bagian factor pendukung kesuksesan dari perjalanan para pebisnis.
Kalaulah peran aktif perempuan berperan
mensukseskan para pebisnis karena pesonanya, apalagi cinta!, karena cinta adalah
jiwanya dari pesona tersebut.
Apalah artinya perempuan?. Apalah artinya
pesona? Kalau tak ada cinta?
Maka dari itulah, disela-sela
keterbatasan waktu, baik para pahlawan ataupun pebisnis selalu memupuk cintanya
supaya tetap tumbuh dan berkembang.
Usia Pernikahannya yang sudah tiga puluh
lima tahun tidaklah menjadi kendala untuk memupuk kemesraan Kyai Haji Agus
Salim dengan keluarganya walaupun ia berada di Cairo dalam menjalani tugasnya. Begitu
juga dengan Budi Utomo. Kecintanya pada sebuah Kemerdekaan, sedikitpun tak
menyurutkan langkah perjuangannya. “Aku kumpulkan Muda-mudi. Kan-Kudidik mereka
menjadi patriot Bangsa” Katanya.
CINTA…
Oleh; eris Herisno
Seri ke 11
“Jeng Lies, aku cinta padamu. Nanti kalau
perang sudah usai. Dan… kita akan membuat mahligai. Tak terlalu tinggi
cita-citaku. Impianku kita punya rumah di atas gunung. Jauuuuh dari
keramaian…”.
Ini bukan puisi. Bukan pula sajak yang sering ditulis oleh para penyair.
Tapi ini adalah sepotong surat cinta dari sang pahlawan kita, -Bung Tomo- untuk
‘Sulistina’ yang dikemudian hari menjadi Isterinya.(dikutip dari majalah
Tarbawi edisi khusus)
Ada banyak surat cinta dari para pahlawan
yang tak bisa saya ungkap semuanya disini. Tapi ‘inti’ yang perlu kita catat adalah sebuah fakta,
bahwa; Cinta bukan hanya milik para penyair seperti Chairil Anwar dengan
puisinya yang terkenal ‘Aku’. Bukan pula milik Kahlil Gibran, Sastrawan ulung
yang dengan tulisan-tulisan sepektakuler-nya mampu memukau semua manusia di
berbagai belahan bumi. Cinta milik semuanya. Termasuk saya dan anda.
”cinta itu anugerah, maka berbahagialah” Kata Doel Sumbang,
Para pahlawan, politikus, pekerja, penyanyi,
Dai, pemimpin, karyawan, dan lain-lain, semua memiliki kalimat yang agung ini.
Termasuk juga disini, para pebisnis!!.
Cobalah simak sepotong puisi karya
Maulana Jalaluddin Rumi:
Cinta adalah lautan tak bertepi
Langit hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah! Langit berputar karena
gelombang cinta
Andai tak ada cinta, dunia ini akan
membeku…..
Kalau saja Napoleon tidak menceraikan isteri
yang sangat dicintai, hanya karena ingin ada satu pewaris Kerajaannya, mungkin
tak akan ada bencana dan kekalahan. “Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap
keadilan akan datang” kata Iwan Fals..
“Hari
ini”, kata Sidney, “marilah kita tambahkan sedikit cinta”.
Cinta, tidaklah harus ditujukan pada
perempuan, karena cinta, “adalah lautan tak bertepi”. Ia ada
dimana-mana. Perempuan butuh cinta, pekerjaan juga butuh cinta, dan
barang-barang yang kita jual juga membutuhkan cinta.
Cinta adalah gelombang dahsyat yang
merupakan bagian factor pendukung kesuksesan dari perjalanan para pebisnis.
Kalaulah peran aktif perempuan berperan
mensukseskan para pebisnis karena pesonanya, apalagi cinta!, karena cinta adalah
jiwanya dari pesona tersebut.
Apalah artinya perempuan?. Apalah artinya
pesona? Kalau tak ada cinta?
Maka dari itulah, disela-sela
keterbatasan waktu, baik para pahlawan ataupun pebisnis selalu memupuk cintanya
supaya tetap tumbuh dan berkembang.
Usia Pernikahannya yang sudah tiga puluh
lima tahun tidaklah menjadi kendala untuk memupuk kemesraan Kyai Haji Agus
Salim dengan keluarganya walaupun ia berada di Cairo dalam menjalani tugasnya. Begitu
juga dengan Budi Utomo. Kecintanya pada sebuah Kemerdekaan, sedikitpun tak
menyurutkan langkah perjuangannya. “Aku kumpulkan Muda-mudi. Kan-Kudidik mereka
menjadi patriot Bangsa” Katanya.
>b:else/>
baca selengkapnya......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar