Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Kamis, 26 Juli 2012

9; MENTAL BISNIS


Bukan hanya sekedar menyeimbangi goncangan jiwa dan memberi ketahanan dari musibah ataupun kegagalan. Namun, mental bisnis juga merupakan pembeda antara pebisnis biasa dan pebisnis sesungguhnya. Ini semacam hukum tak tertulis, barang siapa mampu tahan berlama-lama, Ia adalah pebisnis sesungguhnya!. Tapi barang siapa hanya sekejap, Ia adalah pebisnis biasa atau sekedar asal jalan.
            Mental bisnis, terlahir dari perjalanan panjang yang melelahkan dan menguras pikiran. Namun dibalik semua itu, ada Hikmah yang patut disyukuri. Misalnya keahlian membaca pasar, seni menyelami jiwa pelanggan, setrategi mengolah keluar masuk barang, dan menguatnya semangat tempur berbisnis. Ini semua adalah merupakan ciri dari mental bisnis, atau pebisnis yang sesungguhnya.
            Adalah Abdurrahman bin ‘Auf, ketika harus berhijrah ke madinah, Ia meninggalkan seluruh harta kekayaannya di mekah. Ketika sampai di madinah, ada kisah yang menarik disini, yaitu ketika Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’d bin Rabi’, dan sa’d bin Rabi’ menawarkan separuh kekayaanya serta menawarkan salah satu isterinya, tapi Aburrahman bin ‘Auf menolak, dan berkata Semoga Allah memberkati Anda, Isteri dan harta Anda. Sekarang tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga!”.
            Ini bukan berati Ia tak butuh perempuan dan harta, (karena dengan tujuan ke pasarpun untuk mencari harta) Tapi mental bisnis-lah yang merajai  jiwa, sehingga pesona pasar lebih menguasai persaingan batinnya dibandingkan dengan pesona perempuan dan hadiah harta sekalipun.
            Bagi yang bermental bisnis, pasar adalah merupakan kekuatan dan tempatnya berkarya. Pasar adalah medan tempur dalam melaksanakan tugas bisnis sekaligus uji coba setrateginya. Dan pasar adalah pasangan romantisnya -setelah Istri- yang harus dipelihara agar tetap mesra.
            Sekali lagi!, bukan berarti orang bermental bisnis tidak butuh perempuan. Karena  kita sekarang tidak sedang berbicara soal kekuatan cinta, tapi yang kita bicarakan adalah tentang kekuatan jiwa mengolah daya cipta. Kekuatan pikiran mengolah imajinasi untuk berkarya. Karena ada kalanya kekuatan cinta  menjadi kekuatan negative yang tertanam dalam ruang mental, sehingga menjadi duri ketika melaksanakan daya cipta dan imajinasi dari misi sang pebisnis.
            Ada hal lain yang menjadi ciri dari orang yang bermental bisnis, yaitu; selain pandai membaca peluang, Ia juga selalu memasukan -apa yang dilihat- kedalam imajinasinya sehingga menjadikannya sebagai peluang baru dalam bisnisnya.
            Dan itulah yang terjadi kepada Aburrahman bin ‘Auf. Selain karena ke Tawadhuannya, kekuatan membaca peluang juga yang membuatnya menolak tawaran Sa’d bin Rabi’!. Sehingga Ia berkata, “Tunjukanlah letaknya pasar!”.  Dan itulah mental Bisnis!!.
     


Bukan hanya sekedar menyeimbangi goncangan jiwa dan memberi ketahanan dari musibah ataupun kegagalan. Namun, mental bisnis juga merupakan pembeda antara pebisnis biasa dan pebisnis sesungguhnya. Ini semacam hukum tak tertulis, barang siapa mampu tahan berlama-lama, Ia adalah pebisnis sesungguhnya!. Tapi barang siapa hanya sekejap, Ia adalah pebisnis biasa atau sekedar asal jalan.
            Mental bisnis, terlahir dari perjalanan panjang yang melelahkan dan menguras pikiran. Namun dibalik semua itu, ada Hikmah yang patut disyukuri. Misalnya keahlian membaca pasar, seni menyelami jiwa pelanggan, setrategi mengolah keluar masuk barang, dan menguatnya semangat tempur berbisnis. Ini semua adalah merupakan ciri dari mental bisnis, atau pebisnis yang sesungguhnya.
            Adalah Abdurrahman bin ‘Auf, ketika harus berhijrah ke madinah, Ia meninggalkan seluruh harta kekayaannya di mekah. Ketika sampai di madinah, ada kisah yang menarik disini, yaitu ketika Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’d bin Rabi’, dan sa’d bin Rabi’ menawarkan separuh kekayaanya serta menawarkan salah satu isterinya, tapi Aburrahman bin ‘Auf menolak, dan berkata Semoga Allah memberkati Anda, Isteri dan harta Anda. Sekarang tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga!”.
            Ini bukan berati Ia tak butuh perempuan dan harta, (karena dengan tujuan ke pasarpun untuk mencari harta) Tapi mental bisnis-lah yang merajai  jiwa, sehingga pesona pasar lebih menguasai persaingan batinnya dibandingkan dengan pesona perempuan dan hadiah harta sekalipun.
            Bagi yang bermental bisnis, pasar adalah merupakan kekuatan dan tempatnya berkarya. Pasar adalah medan tempur dalam melaksanakan tugas bisnis sekaligus uji coba setrateginya. Dan pasar adalah pasangan romantisnya -setelah Istri- yang harus dipelihara agar tetap mesra.
            Sekali lagi!, bukan berarti orang bermental bisnis tidak butuh perempuan. Karena  kita sekarang tidak sedang berbicara soal kekuatan cinta, tapi yang kita bicarakan adalah tentang kekuatan jiwa mengolah daya cipta. Kekuatan pikiran mengolah imajinasi untuk berkarya. Karena ada kalanya kekuatan cinta  menjadi kekuatan negative yang tertanam dalam ruang mental, sehingga menjadi duri ketika melaksanakan daya cipta dan imajinasi dari misi sang pebisnis.
            Ada hal lain yang menjadi ciri dari orang yang bermental bisnis, yaitu; selain pandai membaca peluang, Ia juga selalu memasukan -apa yang dilihat- kedalam imajinasinya sehingga menjadikannya sebagai peluang baru dalam bisnisnya.
            Dan itulah yang terjadi kepada Aburrahman bin ‘Auf. Selain karena ke Tawadhuannya, kekuatan membaca peluang juga yang membuatnya menolak tawaran Sa’d bin Rabi’!. Sehingga Ia berkata, “Tunjukanlah letaknya pasar!”.  Dan itulah mental Bisnis!!.
     

>b:else/> baca selengkapnya......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar