Bukan hanya sekedar menyeimbangi goncangan jiwa dan memberi ketahanan
dari musibah ataupun kegagalan. Namun, mental bisnis juga merupakan pembeda
antara pebisnis biasa dan pebisnis sesungguhnya. Ini semacam hukum tak
tertulis, barang siapa mampu tahan berlama-lama, Ia adalah pebisnis
sesungguhnya!. Tapi barang siapa hanya sekejap, Ia adalah pebisnis biasa atau
sekedar asal jalan.
Mental bisnis, terlahir dari perjalanan
panjang yang melelahkan dan menguras pikiran. Namun dibalik semua itu, ada
Hikmah yang patut disyukuri. Misalnya keahlian membaca pasar, seni menyelami
jiwa pelanggan, setrategi mengolah keluar masuk barang, dan menguatnya semangat
tempur berbisnis. Ini semua adalah merupakan ciri dari mental bisnis, atau
pebisnis yang sesungguhnya.
Adalah Abdurrahman bin ‘Auf, ketika harus
berhijrah ke madinah, Ia meninggalkan seluruh harta kekayaannya di mekah.
Ketika sampai di madinah, ada kisah yang menarik disini, yaitu ketika
Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’d bin Rabi’, dan sa’d bin Rabi’ menawarkan
separuh kekayaanya serta menawarkan salah satu isterinya, tapi Aburrahman bin
‘Auf menolak, dan berkata “Semoga Allah memberkati Anda, Isteri dan
harta Anda. Sekarang tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga!”.
Ini bukan berati Ia tak butuh perempuan
dan harta, (karena dengan tujuan ke pasarpun untuk mencari harta) Tapi mental
bisnis-lah yang merajai jiwa, sehingga
pesona pasar lebih menguasai persaingan batinnya dibandingkan dengan pesona
perempuan dan hadiah harta sekalipun.
Bagi yang bermental bisnis, pasar adalah
merupakan kekuatan dan tempatnya berkarya. Pasar adalah medan tempur dalam melaksanakan tugas bisnis
sekaligus uji coba setrateginya. Dan pasar adalah pasangan romantisnya -setelah
Istri- yang harus dipelihara agar tetap mesra.
Sekali lagi!, bukan berarti orang
bermental bisnis tidak butuh perempuan. Karena
kita sekarang tidak sedang berbicara soal kekuatan cinta, tapi yang kita
bicarakan adalah tentang kekuatan jiwa mengolah daya cipta. Kekuatan pikiran
mengolah imajinasi untuk berkarya. Karena ada kalanya kekuatan cinta menjadi kekuatan negative yang tertanam dalam
ruang mental, sehingga menjadi duri ketika melaksanakan daya cipta dan imajinasi
dari misi sang pebisnis.
Ada
hal lain yang menjadi ciri dari orang yang bermental bisnis, yaitu; selain
pandai membaca peluang, Ia juga selalu memasukan -apa yang dilihat- kedalam
imajinasinya sehingga menjadikannya sebagai peluang baru dalam bisnisnya.
Dan itulah yang terjadi kepada Aburrahman
bin ‘Auf. Selain karena ke Tawadhuannya, kekuatan membaca peluang juga yang
membuatnya menolak tawaran Sa’d bin Rabi’!. Sehingga Ia
berkata, “Tunjukanlah letaknya pasar!”. Dan itulah mental Bisnis!!.
Bukan hanya sekedar menyeimbangi goncangan jiwa dan memberi ketahanan
dari musibah ataupun kegagalan. Namun, mental bisnis juga merupakan pembeda
antara pebisnis biasa dan pebisnis sesungguhnya. Ini semacam hukum tak
tertulis, barang siapa mampu tahan berlama-lama, Ia adalah pebisnis
sesungguhnya!. Tapi barang siapa hanya sekejap, Ia adalah pebisnis biasa atau
sekedar asal jalan.
Mental bisnis, terlahir dari perjalanan
panjang yang melelahkan dan menguras pikiran. Namun dibalik semua itu, ada
Hikmah yang patut disyukuri. Misalnya keahlian membaca pasar, seni menyelami
jiwa pelanggan, setrategi mengolah keluar masuk barang, dan menguatnya semangat
tempur berbisnis. Ini semua adalah merupakan ciri dari mental bisnis, atau
pebisnis yang sesungguhnya.
Adalah Abdurrahman bin ‘Auf, ketika harus
berhijrah ke madinah, Ia meninggalkan seluruh harta kekayaannya di mekah.
Ketika sampai di madinah, ada kisah yang menarik disini, yaitu ketika
Rasulullah mempersaudarakannya dengan Sa’d bin Rabi’, dan sa’d bin Rabi’ menawarkan
separuh kekayaanya serta menawarkan salah satu isterinya, tapi Aburrahman bin
‘Auf menolak, dan berkata “Semoga Allah memberkati Anda, Isteri dan
harta Anda. Sekarang tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga!”.
Ini bukan berati Ia tak butuh perempuan
dan harta, (karena dengan tujuan ke pasarpun untuk mencari harta) Tapi mental
bisnis-lah yang merajai jiwa, sehingga
pesona pasar lebih menguasai persaingan batinnya dibandingkan dengan pesona
perempuan dan hadiah harta sekalipun.
Bagi yang bermental bisnis, pasar adalah
merupakan kekuatan dan tempatnya berkarya. Pasar adalah medan tempur dalam melaksanakan tugas bisnis
sekaligus uji coba setrateginya. Dan pasar adalah pasangan romantisnya -setelah
Istri- yang harus dipelihara agar tetap mesra.
Sekali lagi!, bukan berarti orang
bermental bisnis tidak butuh perempuan. Karena
kita sekarang tidak sedang berbicara soal kekuatan cinta, tapi yang kita
bicarakan adalah tentang kekuatan jiwa mengolah daya cipta. Kekuatan pikiran
mengolah imajinasi untuk berkarya. Karena ada kalanya kekuatan cinta menjadi kekuatan negative yang tertanam dalam
ruang mental, sehingga menjadi duri ketika melaksanakan daya cipta dan imajinasi
dari misi sang pebisnis.
Ada
hal lain yang menjadi ciri dari orang yang bermental bisnis, yaitu; selain
pandai membaca peluang, Ia juga selalu memasukan -apa yang dilihat- kedalam
imajinasinya sehingga menjadikannya sebagai peluang baru dalam bisnisnya.
Dan itulah yang terjadi kepada Aburrahman
bin ‘Auf. Selain karena ke Tawadhuannya, kekuatan membaca peluang juga yang
membuatnya menolak tawaran Sa’d bin Rabi’!. Sehingga Ia
berkata, “Tunjukanlah letaknya pasar!”. Dan itulah mental Bisnis!!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar