Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Kamis, 26 Juli 2012

8; MUSIBAH


MUSIBAH
Oleh; Eris Herisno
Serial Bisnis ke; 8


          Pada dasarnya kegagalan adalah musibah juga, namun ada sisi lain yang begitu tipis menjadi pembedanya. Kegagalan atau musibah dalam bisnis adalah resiko, namun masalahnya musibah selalu datang mendadak walau dalam keadaan mental dan fisik kita lemah. Kegagalan dalam bisnis, adakalanya bisa terdeteksi sebelum kejadian menimpa, sedangkan musibah –dalam hal apapun- sama sekali gelap untuk kita antisipasi kapanpun dan dimanapun.
            Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menyikapi musibah tersebut, sebagaimna kita menyikapi kegagalan. Goncangan jiwa, melemahnya pisik secara drastis, menurunnya kecemerlangan berpikir kita, dan lain-lain, adalah akibat yang sering terjadi menimpa ketika di hantam musibah. Kebakaran pasar misalnya, atau barang yang siap Expor hilang di curi orang, atau rugi besar yang membuat bangkrut, adalah  contoh musibah (bukan merupakan kegagalan) yang kerap menimpa para pebisnis. Disini, Ada kerja jiwa dan pikiran yang membebani mentalnya. Utang yang harus segera di bayar, atau Gajih Karyawan yang tinggal hitungan hari, cicilan ke Bank, yang tentu saja ini semua membutuhkan ketahanan extra.
            Tetapi,” Kata Anis Matta. “Musibah yang sangat berat adalah musibah yang menimpa fisik sehingga mempengaruhi ruang gerak. Misalnya: Kebutaan, ketulian atau kelumpuhan.” Dan ini, menurut saya rasanya tidak pantas kalau disebut sebagai kegagalan.
            Dalam hal ini, selain keimanan, ada empat hal yang sangat menentukan. Ketenangan dan kesabaran, harapan dan cita-cita, keberanian yang terarah, dan semangat kerja yang tinggi, mungkin akan sedikit mengurangi beban tersebut.
            “Ketenangan,” kata Anis Matta, “akan menyeimbangkan jiwa, harapan akan menambah kepercayaan kepada Allah SWT, keberanian akan melahirkan tekad baja, dan semangat kerja akan mengalahkan keterbatasan fisiknya.”
            Dalam banyak kasus, cacat fisik memang tidaklah menghentikan orang–orang yang punya mental bisnis, tapi hanya mengurangi gerak.
            Teman saya –walaupun hanya memiliki satu tangan- tapi mampu membangun konveksi dan menggerakan puluhan karyawannya.
            Namun sekali lagi, ada keterbatasan fisik lain yang bisa mengurangi gerak. Misalnya: kebutaan akan menyulitkannya berinovasi, ketulian akan menyulitkan Ia bernegosiasi, dan kelumpuhan akan menghambat kerjanya.
            Tetapi, ada yang perlu di catat disini! Bahwa dibalik keterbatasan fisik selalu ada kelebihan, biasanya, keterarahan dan konsenterasi, sangat kuat memenuhi ruang daya ciptanya.
     Jika begitu, tentu saja ini merupakan karunia dan nikmat dari Allah SWT yang tak boleh kita dustakan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Qs-55; 18)”


MUSIBAH
Oleh; Eris Herisno
Serial Bisnis ke; 8


          Pada dasarnya kegagalan adalah musibah juga, namun ada sisi lain yang begitu tipis menjadi pembedanya. Kegagalan atau musibah dalam bisnis adalah resiko, namun masalahnya musibah selalu datang mendadak walau dalam keadaan mental dan fisik kita lemah. Kegagalan dalam bisnis, adakalanya bisa terdeteksi sebelum kejadian menimpa, sedangkan musibah –dalam hal apapun- sama sekali gelap untuk kita antisipasi kapanpun dan dimanapun.
            Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menyikapi musibah tersebut, sebagaimna kita menyikapi kegagalan. Goncangan jiwa, melemahnya pisik secara drastis, menurunnya kecemerlangan berpikir kita, dan lain-lain, adalah akibat yang sering terjadi menimpa ketika di hantam musibah. Kebakaran pasar misalnya, atau barang yang siap Expor hilang di curi orang, atau rugi besar yang membuat bangkrut, adalah  contoh musibah (bukan merupakan kegagalan) yang kerap menimpa para pebisnis. Disini, Ada kerja jiwa dan pikiran yang membebani mentalnya. Utang yang harus segera di bayar, atau Gajih Karyawan yang tinggal hitungan hari, cicilan ke Bank, yang tentu saja ini semua membutuhkan ketahanan extra.
            Tetapi,” Kata Anis Matta. “Musibah yang sangat berat adalah musibah yang menimpa fisik sehingga mempengaruhi ruang gerak. Misalnya: Kebutaan, ketulian atau kelumpuhan.” Dan ini, menurut saya rasanya tidak pantas kalau disebut sebagai kegagalan.
            Dalam hal ini, selain keimanan, ada empat hal yang sangat menentukan. Ketenangan dan kesabaran, harapan dan cita-cita, keberanian yang terarah, dan semangat kerja yang tinggi, mungkin akan sedikit mengurangi beban tersebut.
            “Ketenangan,” kata Anis Matta, “akan menyeimbangkan jiwa, harapan akan menambah kepercayaan kepada Allah SWT, keberanian akan melahirkan tekad baja, dan semangat kerja akan mengalahkan keterbatasan fisiknya.”
            Dalam banyak kasus, cacat fisik memang tidaklah menghentikan orang–orang yang punya mental bisnis, tapi hanya mengurangi gerak.
            Teman saya –walaupun hanya memiliki satu tangan- tapi mampu membangun konveksi dan menggerakan puluhan karyawannya.
            Namun sekali lagi, ada keterbatasan fisik lain yang bisa mengurangi gerak. Misalnya: kebutaan akan menyulitkannya berinovasi, ketulian akan menyulitkan Ia bernegosiasi, dan kelumpuhan akan menghambat kerjanya.
            Tetapi, ada yang perlu di catat disini! Bahwa dibalik keterbatasan fisik selalu ada kelebihan, biasanya, keterarahan dan konsenterasi, sangat kuat memenuhi ruang daya ciptanya.
     Jika begitu, tentu saja ini merupakan karunia dan nikmat dari Allah SWT yang tak boleh kita dustakan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Qs-55; 18)”

>b:else/> baca selengkapnya......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar