MUSIBAH
Oleh; Eris Herisno
Serial Bisnis ke; 8
Pada dasarnya kegagalan adalah musibah juga, namun ada sisi lain yang
begitu tipis menjadi pembedanya. Kegagalan atau musibah dalam bisnis adalah
resiko, namun masalahnya musibah selalu datang mendadak walau dalam keadaan
mental dan fisik kita lemah. Kegagalan dalam bisnis, adakalanya bisa terdeteksi
sebelum kejadian menimpa, sedangkan musibah –dalam hal apapun- sama sekali gelap
untuk kita antisipasi kapanpun dan dimanapun.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana
kita menyikapi musibah tersebut, sebagaimna kita menyikapi kegagalan. Goncangan
jiwa, melemahnya pisik secara drastis, menurunnya kecemerlangan berpikir kita,
dan lain-lain, adalah akibat yang sering terjadi menimpa ketika di hantam
musibah. Kebakaran pasar misalnya, atau barang yang siap Expor hilang di curi
orang, atau rugi besar yang membuat bangkrut, adalah contoh musibah (bukan merupakan kegagalan) yang
kerap menimpa para pebisnis. Disini, Ada
kerja jiwa dan pikiran yang membebani mentalnya. Utang yang harus segera di
bayar, atau Gajih Karyawan yang tinggal hitungan hari, cicilan ke Bank, yang tentu
saja ini semua membutuhkan ketahanan extra.
“Tetapi,” Kata Anis Matta. “Musibah yang sangat berat adalah musibah
yang menimpa fisik sehingga mempengaruhi ruang gerak. Misalnya: Kebutaan,
ketulian atau kelumpuhan.” Dan ini, menurut saya rasanya tidak pantas
kalau disebut sebagai kegagalan.
Dalam hal ini, selain keimanan, ada empat
hal yang sangat menentukan. Ketenangan dan kesabaran, harapan dan cita-cita,
keberanian yang terarah, dan semangat kerja yang tinggi, mungkin akan sedikit
mengurangi beban tersebut.
“Ketenangan,” kata Anis Matta, “akan menyeimbangkan jiwa, harapan
akan menambah kepercayaan kepada Allah SWT, keberanian akan melahirkan tekad
baja, dan semangat kerja akan mengalahkan keterbatasan fisiknya.”
Dalam banyak kasus, cacat fisik memang
tidaklah menghentikan orang–orang yang punya mental bisnis, tapi hanya
mengurangi gerak.
Teman saya –walaupun hanya memiliki satu
tangan- tapi mampu membangun konveksi dan menggerakan puluhan karyawannya.
Namun sekali lagi, ada keterbatasan
fisik lain yang bisa mengurangi gerak. Misalnya: kebutaan akan menyulitkannya
berinovasi, ketulian akan menyulitkan Ia bernegosiasi, dan kelumpuhan akan
menghambat kerjanya.
Tetapi, ada yang perlu di
catat disini! Bahwa dibalik keterbatasan fisik selalu ada kelebihan, biasanya,
keterarahan dan konsenterasi, sangat kuat memenuhi ruang daya ciptanya.
Jika begitu, tentu saja ini merupakan karunia dan nikmat dari Allah SWT
yang tak boleh kita dustakan.
“Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Qs-55; 18)”
MUSIBAH
Oleh; Eris Herisno
Serial Bisnis ke; 8
Pada dasarnya kegagalan adalah musibah juga, namun ada sisi lain yang
begitu tipis menjadi pembedanya. Kegagalan atau musibah dalam bisnis adalah
resiko, namun masalahnya musibah selalu datang mendadak walau dalam keadaan
mental dan fisik kita lemah. Kegagalan dalam bisnis, adakalanya bisa terdeteksi
sebelum kejadian menimpa, sedangkan musibah –dalam hal apapun- sama sekali gelap
untuk kita antisipasi kapanpun dan dimanapun.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana
kita menyikapi musibah tersebut, sebagaimna kita menyikapi kegagalan. Goncangan
jiwa, melemahnya pisik secara drastis, menurunnya kecemerlangan berpikir kita,
dan lain-lain, adalah akibat yang sering terjadi menimpa ketika di hantam
musibah. Kebakaran pasar misalnya, atau barang yang siap Expor hilang di curi
orang, atau rugi besar yang membuat bangkrut, adalah contoh musibah (bukan merupakan kegagalan) yang
kerap menimpa para pebisnis. Disini, Ada
kerja jiwa dan pikiran yang membebani mentalnya. Utang yang harus segera di
bayar, atau Gajih Karyawan yang tinggal hitungan hari, cicilan ke Bank, yang tentu
saja ini semua membutuhkan ketahanan extra.
“Tetapi,” Kata Anis Matta. “Musibah yang sangat berat adalah musibah
yang menimpa fisik sehingga mempengaruhi ruang gerak. Misalnya: Kebutaan,
ketulian atau kelumpuhan.” Dan ini, menurut saya rasanya tidak pantas
kalau disebut sebagai kegagalan.
Dalam hal ini, selain keimanan, ada empat
hal yang sangat menentukan. Ketenangan dan kesabaran, harapan dan cita-cita,
keberanian yang terarah, dan semangat kerja yang tinggi, mungkin akan sedikit
mengurangi beban tersebut.
“Ketenangan,” kata Anis Matta, “akan menyeimbangkan jiwa, harapan
akan menambah kepercayaan kepada Allah SWT, keberanian akan melahirkan tekad
baja, dan semangat kerja akan mengalahkan keterbatasan fisiknya.”
Dalam banyak kasus, cacat fisik memang
tidaklah menghentikan orang–orang yang punya mental bisnis, tapi hanya
mengurangi gerak.
Teman saya –walaupun hanya memiliki satu
tangan- tapi mampu membangun konveksi dan menggerakan puluhan karyawannya.
Namun sekali lagi, ada keterbatasan
fisik lain yang bisa mengurangi gerak. Misalnya: kebutaan akan menyulitkannya
berinovasi, ketulian akan menyulitkan Ia bernegosiasi, dan kelumpuhan akan
menghambat kerjanya.
Tetapi, ada yang perlu di
catat disini! Bahwa dibalik keterbatasan fisik selalu ada kelebihan, biasanya,
keterarahan dan konsenterasi, sangat kuat memenuhi ruang daya ciptanya.
Jika begitu, tentu saja ini merupakan karunia dan nikmat dari Allah SWT
yang tak boleh kita dustakan.
“Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Qs-55; 18)”
>b:else/>
baca selengkapnya......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar