Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum

Senin, 30 Juli 2012

12; DRAMA CINTA SUCI


DRAMA CINTA SUCI
Oleh; Eris Herisno
Seri ke 12




Seberapa besar kecintaan kita terhadap Sesutu yang kita cintai?.
            Jawabnya bisa terukur dengan sebesar pengorbanan dan keberanian kita terhadap yang kita cintai.
            Ketulusan hati, kemurnian cinta, kepasrahan jiwa, adalah penyangganya. Penyangga yang membuat seseorang mampu bertahan walau harus mengalami luka  dengan sakit luar biasa.
            Maka dari itulah, walau harus menerima siksaan yang pedih; dijemur di bawah terik matahari yang menyengat, ditindih dengan batu besar, dan dicambuk, tak  menyurutkan kemurnian cinta Bilal bin Rabah terhadap Allah SWT.
            Atau seperti yang dialami Organisasi dunia terbesar Ikhwanul Muslimin. Walau ratusan anggotanya dijebloskan berkali-kali kedalam penjara, lalu disiksa, tapi tetap tak mengubah semboyan yang menjadi tekadnya; Allah tujuan kami, Muhammad tauladan kami, Alquran undang-undang kami, Jihad jalan kami, dan mati Syahid adalah cita-cita kami tertinggi.
            Begitu juga dengan Asyahid Sayid Qutub. Ketulusan hati, kemurnian cinta dan kepasrahan jiwanya terhadap Allah SWT, telah membuat terhenyak seluruh umat di berbagai belahan bumi ketika menyaksikan senyumnya yang lebar saat menghadapi tiang gantungan. Seolah–olah ia ingin memberi tahu pada dunia, bahwa; Tiang gantungan adalah ‘kalung mahar’ buat 72 bidadari di sorga.
            Itulah beberapa contoh pengorbanan yang merupakan dampak dari ketulusan hati, kemurnian cinta dan keprasahan jiwa terhadap yang dicintainya.
            Lalu, sebesar apakah keberanian kita ketika kita membela sesuatu yang kita cintai? 
            Jawabnya adalah; Sebesar keberanian kita menumpahkan kemampuan di medan laga!. Atau sebesar keberanian kita menghadapi musuh walau dengan senjata apa adanya.
            Bara’ bin Malik r.a adalah salah satu contoh yang harus kita jadikan Ibroh. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga membuat kita berdecak kagum, misalnya ketika Ia bertempur dalam perang tanding, Ia berhasil menghabisi seratus jagoan kapir. Atau ketika melawan pasukan musailamah, ialah yang punya inisiatif agar teman-temannya melemparkannya ke dalam benteng musuh supaya bisa membuka pintu gerbang yang kokoh. Alhasil!, Ia berhasil membuka pintu tersebut dengan menumbangkan sepuluh penjaga tangguh, walau harus diganjar dengan 80 luka ditubuhnya.
            Contoh-contoh di atas adalah rentetan drama cinta suci yang hanya bisa diperankan oleh orang-orang yang punya misi suci, dimana hatinya benar-benar tulus, cintanya benar-benar murni dan jiwanya benar-benar pasrah yang kesemuanya hanya untuk Allah SWT.
            Dalam dunia bisnis, ketulusan hati, kemurnian cinta dan kepasrahan jiwa merupakan tonggak kokoh yang mampu menahan goncangan, baik dalam menghadapi pelanggan yang rewel, majikan yang malas bayar utang, atau menghadapi kondisi yang sepi pembeli. Ketulusan hati akan membuat perasaan menjadi lapang, dan akan menghubungkan semua masalah bahwa; ini adalah taqdir dari Allah SWT. Kemurnian cinta akan melaihrkan kesabaran, baik cinta pada barang yang enggak laku-laku, cinta pada majikan yang susah bayar, atau cinta pada pelanggan yang pindah belanja. Dan kepasrahan jiwa akan melahirkan ketegaran dalam mengahadapi segala kesulitan.
            Sekarang saya yakin, hanya orang-orang seperti Bara’ bin Malik-lah yang mampu bertahan dalam menghadapi ruwetnya pasar. Atau seperti anggota Ikhwanul Muslimin yang bisa tegar dalam menghadapi tekanan dari para pesaing bisnis. Atau juga orang seperti Asyahid Sayid Qutub-lah yang bisa tersenyum ketika menghadapi kedzoliman dari rekan bisnis!!.

      

    


DRAMA CINTA SUCI
Oleh; Eris Herisno
Seri ke 12




Seberapa besar kecintaan kita terhadap Sesutu yang kita cintai?.
            Jawabnya bisa terukur dengan sebesar pengorbanan dan keberanian kita terhadap yang kita cintai.
            Ketulusan hati, kemurnian cinta, kepasrahan jiwa, adalah penyangganya. Penyangga yang membuat seseorang mampu bertahan walau harus mengalami luka  dengan sakit luar biasa.
            Maka dari itulah, walau harus menerima siksaan yang pedih; dijemur di bawah terik matahari yang menyengat, ditindih dengan batu besar, dan dicambuk, tak  menyurutkan kemurnian cinta Bilal bin Rabah terhadap Allah SWT.
            Atau seperti yang dialami Organisasi dunia terbesar Ikhwanul Muslimin. Walau ratusan anggotanya dijebloskan berkali-kali kedalam penjara, lalu disiksa, tapi tetap tak mengubah semboyan yang menjadi tekadnya; Allah tujuan kami, Muhammad tauladan kami, Alquran undang-undang kami, Jihad jalan kami, dan mati Syahid adalah cita-cita kami tertinggi.
            Begitu juga dengan Asyahid Sayid Qutub. Ketulusan hati, kemurnian cinta dan kepasrahan jiwanya terhadap Allah SWT, telah membuat terhenyak seluruh umat di berbagai belahan bumi ketika menyaksikan senyumnya yang lebar saat menghadapi tiang gantungan. Seolah–olah ia ingin memberi tahu pada dunia, bahwa; Tiang gantungan adalah ‘kalung mahar’ buat 72 bidadari di sorga.
            Itulah beberapa contoh pengorbanan yang merupakan dampak dari ketulusan hati, kemurnian cinta dan keprasahan jiwa terhadap yang dicintainya.
            Lalu, sebesar apakah keberanian kita ketika kita membela sesuatu yang kita cintai? 
            Jawabnya adalah; Sebesar keberanian kita menumpahkan kemampuan di medan laga!. Atau sebesar keberanian kita menghadapi musuh walau dengan senjata apa adanya.
            Bara’ bin Malik r.a adalah salah satu contoh yang harus kita jadikan Ibroh. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga membuat kita berdecak kagum, misalnya ketika Ia bertempur dalam perang tanding, Ia berhasil menghabisi seratus jagoan kapir. Atau ketika melawan pasukan musailamah, ialah yang punya inisiatif agar teman-temannya melemparkannya ke dalam benteng musuh supaya bisa membuka pintu gerbang yang kokoh. Alhasil!, Ia berhasil membuka pintu tersebut dengan menumbangkan sepuluh penjaga tangguh, walau harus diganjar dengan 80 luka ditubuhnya.
            Contoh-contoh di atas adalah rentetan drama cinta suci yang hanya bisa diperankan oleh orang-orang yang punya misi suci, dimana hatinya benar-benar tulus, cintanya benar-benar murni dan jiwanya benar-benar pasrah yang kesemuanya hanya untuk Allah SWT.
            Dalam dunia bisnis, ketulusan hati, kemurnian cinta dan kepasrahan jiwa merupakan tonggak kokoh yang mampu menahan goncangan, baik dalam menghadapi pelanggan yang rewel, majikan yang malas bayar utang, atau menghadapi kondisi yang sepi pembeli. Ketulusan hati akan membuat perasaan menjadi lapang, dan akan menghubungkan semua masalah bahwa; ini adalah taqdir dari Allah SWT. Kemurnian cinta akan melaihrkan kesabaran, baik cinta pada barang yang enggak laku-laku, cinta pada majikan yang susah bayar, atau cinta pada pelanggan yang pindah belanja. Dan kepasrahan jiwa akan melahirkan ketegaran dalam mengahadapi segala kesulitan.
            Sekarang saya yakin, hanya orang-orang seperti Bara’ bin Malik-lah yang mampu bertahan dalam menghadapi ruwetnya pasar. Atau seperti anggota Ikhwanul Muslimin yang bisa tegar dalam menghadapi tekanan dari para pesaing bisnis. Atau juga orang seperti Asyahid Sayid Qutub-lah yang bisa tersenyum ketika menghadapi kedzoliman dari rekan bisnis!!.

      

    

>b:else/> baca selengkapnya......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar