DRAMA CINTA SUCI
Oleh; Eris Herisno
Seri ke 12
Seberapa besar kecintaan kita terhadap
Sesutu yang kita cintai?.
Jawabnya bisa terukur dengan sebesar
pengorbanan dan keberanian kita terhadap yang kita cintai.
Ketulusan hati, kemurnian cinta,
kepasrahan jiwa, adalah penyangganya. Penyangga yang membuat seseorang mampu
bertahan walau harus mengalami luka
dengan sakit luar biasa.
Maka dari itulah, walau harus menerima
siksaan yang pedih; dijemur di bawah terik matahari yang menyengat, ditindih
dengan batu besar, dan dicambuk, tak
menyurutkan kemurnian cinta Bilal bin Rabah terhadap Allah SWT.
Atau seperti yang dialami Organisasi dunia
terbesar Ikhwanul Muslimin. Walau ratusan anggotanya dijebloskan berkali-kali
kedalam penjara, lalu disiksa, tapi tetap tak mengubah semboyan yang menjadi tekadnya;
Allah tujuan kami, Muhammad tauladan kami, Alquran undang-undang kami, Jihad jalan
kami, dan mati Syahid adalah cita-cita kami tertinggi.
Begitu juga dengan Asyahid Sayid Qutub. Ketulusan
hati, kemurnian cinta dan kepasrahan jiwanya terhadap Allah SWT, telah membuat
terhenyak seluruh umat di berbagai belahan bumi ketika menyaksikan senyumnya
yang lebar saat menghadapi tiang gantungan. Seolah–olah ia ingin memberi tahu
pada dunia, bahwa; Tiang gantungan adalah ‘kalung mahar’ buat 72 bidadari di
sorga.
Itulah beberapa contoh pengorbanan yang
merupakan dampak dari ketulusan hati, kemurnian cinta dan keprasahan jiwa terhadap
yang dicintainya.
Lalu, sebesar apakah keberanian kita ketika
kita membela sesuatu yang kita cintai?
Jawabnya adalah; Sebesar keberanian kita
menumpahkan kemampuan di medan
laga!. Atau sebesar keberanian kita menghadapi musuh walau dengan senjata apa
adanya.
Bara’ bin Malik r.a adalah salah satu
contoh yang harus kita jadikan Ibroh. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga membuat kita
berdecak kagum, misalnya ketika Ia bertempur dalam perang tanding, Ia berhasil
menghabisi seratus jagoan kapir. Atau ketika melawan pasukan musailamah, ialah
yang punya inisiatif agar teman-temannya melemparkannya ke dalam benteng musuh
supaya bisa membuka pintu gerbang yang kokoh. Alhasil!, Ia berhasil membuka
pintu tersebut dengan menumbangkan sepuluh penjaga tangguh, walau harus
diganjar dengan 80 luka ditubuhnya.
Contoh-contoh di atas adalah rentetan
drama cinta suci yang hanya bisa diperankan oleh orang-orang yang punya misi
suci, dimana hatinya benar-benar tulus, cintanya benar-benar murni dan jiwanya
benar-benar pasrah yang kesemuanya hanya untuk Allah SWT.
Dalam dunia bisnis, ketulusan hati,
kemurnian cinta dan kepasrahan jiwa merupakan tonggak kokoh yang mampu menahan
goncangan, baik dalam menghadapi pelanggan yang rewel, majikan yang malas bayar
utang, atau menghadapi kondisi yang sepi pembeli. Ketulusan hati akan membuat
perasaan menjadi lapang, dan akan menghubungkan semua masalah bahwa; ini adalah
taqdir dari Allah SWT. Kemurnian cinta akan melaihrkan kesabaran, baik cinta
pada barang yang enggak laku-laku, cinta pada majikan yang susah bayar, atau
cinta pada pelanggan yang pindah belanja. Dan kepasrahan jiwa akan melahirkan
ketegaran dalam mengahadapi segala kesulitan.
Sekarang saya yakin, hanya orang-orang
seperti Bara’ bin Malik-lah yang mampu bertahan dalam menghadapi ruwetnya
pasar. Atau seperti anggota Ikhwanul Muslimin yang bisa tegar dalam menghadapi
tekanan dari para pesaing bisnis. Atau juga orang seperti Asyahid Sayid Qutub-lah
yang bisa tersenyum ketika menghadapi kedzoliman dari rekan bisnis!!.
DRAMA CINTA SUCI
Oleh; Eris Herisno
Seri ke 12
Seberapa besar kecintaan kita terhadap
Sesutu yang kita cintai?.
Jawabnya bisa terukur dengan sebesar
pengorbanan dan keberanian kita terhadap yang kita cintai.
Ketulusan hati, kemurnian cinta,
kepasrahan jiwa, adalah penyangganya. Penyangga yang membuat seseorang mampu
bertahan walau harus mengalami luka
dengan sakit luar biasa.
Maka dari itulah, walau harus menerima
siksaan yang pedih; dijemur di bawah terik matahari yang menyengat, ditindih
dengan batu besar, dan dicambuk, tak
menyurutkan kemurnian cinta Bilal bin Rabah terhadap Allah SWT.
Atau seperti yang dialami Organisasi dunia
terbesar Ikhwanul Muslimin. Walau ratusan anggotanya dijebloskan berkali-kali
kedalam penjara, lalu disiksa, tapi tetap tak mengubah semboyan yang menjadi tekadnya;
Allah tujuan kami, Muhammad tauladan kami, Alquran undang-undang kami, Jihad jalan
kami, dan mati Syahid adalah cita-cita kami tertinggi.
Begitu juga dengan Asyahid Sayid Qutub. Ketulusan
hati, kemurnian cinta dan kepasrahan jiwanya terhadap Allah SWT, telah membuat
terhenyak seluruh umat di berbagai belahan bumi ketika menyaksikan senyumnya
yang lebar saat menghadapi tiang gantungan. Seolah–olah ia ingin memberi tahu
pada dunia, bahwa; Tiang gantungan adalah ‘kalung mahar’ buat 72 bidadari di
sorga.
Itulah beberapa contoh pengorbanan yang
merupakan dampak dari ketulusan hati, kemurnian cinta dan keprasahan jiwa terhadap
yang dicintainya.
Lalu, sebesar apakah keberanian kita ketika
kita membela sesuatu yang kita cintai?
Jawabnya adalah; Sebesar keberanian kita
menumpahkan kemampuan di medan
laga!. Atau sebesar keberanian kita menghadapi musuh walau dengan senjata apa
adanya.
Bara’ bin Malik r.a adalah salah satu
contoh yang harus kita jadikan Ibroh. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga membuat kita
berdecak kagum, misalnya ketika Ia bertempur dalam perang tanding, Ia berhasil
menghabisi seratus jagoan kapir. Atau ketika melawan pasukan musailamah, ialah
yang punya inisiatif agar teman-temannya melemparkannya ke dalam benteng musuh
supaya bisa membuka pintu gerbang yang kokoh. Alhasil!, Ia berhasil membuka
pintu tersebut dengan menumbangkan sepuluh penjaga tangguh, walau harus
diganjar dengan 80 luka ditubuhnya.
Contoh-contoh di atas adalah rentetan
drama cinta suci yang hanya bisa diperankan oleh orang-orang yang punya misi
suci, dimana hatinya benar-benar tulus, cintanya benar-benar murni dan jiwanya
benar-benar pasrah yang kesemuanya hanya untuk Allah SWT.
Dalam dunia bisnis, ketulusan hati,
kemurnian cinta dan kepasrahan jiwa merupakan tonggak kokoh yang mampu menahan
goncangan, baik dalam menghadapi pelanggan yang rewel, majikan yang malas bayar
utang, atau menghadapi kondisi yang sepi pembeli. Ketulusan hati akan membuat
perasaan menjadi lapang, dan akan menghubungkan semua masalah bahwa; ini adalah
taqdir dari Allah SWT. Kemurnian cinta akan melaihrkan kesabaran, baik cinta
pada barang yang enggak laku-laku, cinta pada majikan yang susah bayar, atau
cinta pada pelanggan yang pindah belanja. Dan kepasrahan jiwa akan melahirkan
ketegaran dalam mengahadapi segala kesulitan.
Sekarang saya yakin, hanya orang-orang
seperti Bara’ bin Malik-lah yang mampu bertahan dalam menghadapi ruwetnya
pasar. Atau seperti anggota Ikhwanul Muslimin yang bisa tegar dalam menghadapi
tekanan dari para pesaing bisnis. Atau juga orang seperti Asyahid Sayid Qutub-lah
yang bisa tersenyum ketika menghadapi kedzoliman dari rekan bisnis!!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar