KEKHAWATIRAN
Oleh; Eris Herisno
(Serial ke 20)
Sehebat apapun keberanian kita, sekuat
apapun ketahanan fisik kita, sebagus apapun strategi yang di terapkan, cinta,
senyuman, inovasi, dan setangguh apapun mental bisnis kita, bukan berarti kita
jernih dari kekurangan-kekurangan. Kita adalah manusia biasa yang mempunyai
keterbatasan.
Salah
satu kekurangan yang pasti ada dalam
setiap jiwa manusia adalah memiliki perasaan khawatir.
Apa itu khawatir?
“Khawatir adalah sikap merasa tidak berdaya
terhadap sesuatu yang dipandang lebih kuasa dan disertai perasaan terancam”,
kata Abu Ahmadi dalam bukunya ‘Psikologi Umum’. Artinya, khawatir adalah sikap
yang lumrah bahkan bisa dikatakan wajar secara psikologis.
Namun, kita tak boleh membiarkan
kekhawatiran tersebut merajai jiwa sehingga mengendalikan semua energi fisik
dan pikiran. Jika hal ini terjadi?. Bersiap-siaplah menghadapi kelelahan pisik
dan otak kita, karena ia (Kekhawatiran) akan menjadi pembunuh imajinasi yang
ada dalam ruang daya cipta kita. Dan juga, Jangan harap fisik kita akan bekerja optimal!!.
“Bukanlah kerja yang membunuh manusia,
melainkan rasa khawatir”, Kata Henry Ward Beecher.
Suatu ketika dalam sebuah perenungan, saya
menemukan sebuah jawaban tentang efek dari kekhawatiran. Dan sekarang saya
percaya bahwa; Kekhawatiran akan menjadi ulat yang merusak daya cipta, jika
kita larut terus menerus kedalamnya. Tapi ia juga akan menjadi energi, bahkan akan
melahirkan sumber inspirasi kalau kita mengendalikannya dan menyerahkan
persoalan yang kita khawatirkan tersebut pada Allah SWT.
Cobalah anda baca, apa penyebab lahirnya
buku ‘Mencari Pahlawan Indonesia,
karya Anis Matta??’. Salah satu jawabannya adalah Kerisauan! atau kekhawatiran
yang di ubah menjadi sebuah energi!. Anis sangat risau atau khawatir terhadap
krisis besar yang melanda negeri ini.”Kita justru mengalami kelangkaan pahlawan”,
Dan ini merupakan, “isyarat kematian sebuah bangsa”. Katanya.
Dalam banyak kasus, sebagian besar masalah yang dikhawatirkan tidak
pernah terjadi. Ia hanyalah sebuah perasaan yang kalau kita larut, kita akan
tersiksa dan menderita olehnya. “Khawatir itu sebenarnya energi yang salah
arah”, kata penulis buku ‘366
Esai’, Sidney Newton Bremer, Ph.D.
Dalam menjalani kehidupan, suatu saat
kita pasti dihantam badai. Yang kita lakukan bukanlah lari lalu sembunyi,
karena ia bagian dari taqdir yang pasti ada dan harus kita hadapi. Sebab, hanya
dibalik badai itulah kesuksesan berada. Kalau kita lari, berarti kita meninggalkan
kesuksesan terserbut, sedangkan badai….?, ia akan tetap ada, terus ada, dan mengikuti
kita!!.
Ketika badai menghantam, kekhawatiran
akan muncul. Kita khawatir pada diri, kita khawatir pada keluarga, anak, istri,
harta, kebun, pekerjaan, dan termasuk juga pada bisnis!. Bahkan di dalam
bisnis, rasa khawatir seperti sekeping mata uang yang sulit di pisahkan. Baik
bisnis jasa, barang, atau obat-obatan, dll.
Namun sekali lagi, kita tak boleh larut
atau terlena olehnya.
Apa yang kita khawatirkan biasanya belum jelas, namun sekali lagi kita
tak boleh terlena, karena ia akan menjadi duri yang menghambat perjalanan
panjang kita. Wallahu ‘alam. ***
KEKHAWATIRAN
Oleh; Eris Herisno
(Serial ke 20)
Sehebat apapun keberanian kita, sekuat
apapun ketahanan fisik kita, sebagus apapun strategi yang di terapkan, cinta,
senyuman, inovasi, dan setangguh apapun mental bisnis kita, bukan berarti kita
jernih dari kekurangan-kekurangan. Kita adalah manusia biasa yang mempunyai
keterbatasan.
Salah
satu kekurangan yang pasti ada dalam
setiap jiwa manusia adalah memiliki perasaan khawatir.
Apa itu khawatir?
“Khawatir adalah sikap merasa tidak berdaya
terhadap sesuatu yang dipandang lebih kuasa dan disertai perasaan terancam”,
kata Abu Ahmadi dalam bukunya ‘Psikologi Umum’. Artinya, khawatir adalah sikap
yang lumrah bahkan bisa dikatakan wajar secara psikologis.
Namun, kita tak boleh membiarkan
kekhawatiran tersebut merajai jiwa sehingga mengendalikan semua energi fisik
dan pikiran. Jika hal ini terjadi?. Bersiap-siaplah menghadapi kelelahan pisik
dan otak kita, karena ia (Kekhawatiran) akan menjadi pembunuh imajinasi yang
ada dalam ruang daya cipta kita. Dan juga, Jangan harap fisik kita akan bekerja optimal!!.
“Bukanlah kerja yang membunuh manusia,
melainkan rasa khawatir”, Kata Henry Ward Beecher.
Suatu ketika dalam sebuah perenungan, saya
menemukan sebuah jawaban tentang efek dari kekhawatiran. Dan sekarang saya
percaya bahwa; Kekhawatiran akan menjadi ulat yang merusak daya cipta, jika
kita larut terus menerus kedalamnya. Tapi ia juga akan menjadi energi, bahkan akan
melahirkan sumber inspirasi kalau kita mengendalikannya dan menyerahkan
persoalan yang kita khawatirkan tersebut pada Allah SWT.
Cobalah anda baca, apa penyebab lahirnya
buku ‘Mencari Pahlawan Indonesia,
karya Anis Matta??’. Salah satu jawabannya adalah Kerisauan! atau kekhawatiran
yang di ubah menjadi sebuah energi!. Anis sangat risau atau khawatir terhadap
krisis besar yang melanda negeri ini.”Kita justru mengalami kelangkaan pahlawan”,
Dan ini merupakan, “isyarat kematian sebuah bangsa”. Katanya.
Dalam banyak kasus, sebagian besar masalah yang dikhawatirkan tidak
pernah terjadi. Ia hanyalah sebuah perasaan yang kalau kita larut, kita akan
tersiksa dan menderita olehnya. “Khawatir itu sebenarnya energi yang salah
arah”, kata penulis buku ‘366
Esai’, Sidney Newton Bremer, Ph.D.
Dalam menjalani kehidupan, suatu saat
kita pasti dihantam badai. Yang kita lakukan bukanlah lari lalu sembunyi,
karena ia bagian dari taqdir yang pasti ada dan harus kita hadapi. Sebab, hanya
dibalik badai itulah kesuksesan berada. Kalau kita lari, berarti kita meninggalkan
kesuksesan terserbut, sedangkan badai….?, ia akan tetap ada, terus ada, dan mengikuti
kita!!.
Ketika badai menghantam, kekhawatiran
akan muncul. Kita khawatir pada diri, kita khawatir pada keluarga, anak, istri,
harta, kebun, pekerjaan, dan termasuk juga pada bisnis!. Bahkan di dalam
bisnis, rasa khawatir seperti sekeping mata uang yang sulit di pisahkan. Baik
bisnis jasa, barang, atau obat-obatan, dll.
Namun sekali lagi, kita tak boleh larut
atau terlena olehnya.
Apa yang kita khawatirkan biasanya belum jelas, namun sekali lagi kita
tak boleh terlena, karena ia akan menjadi duri yang menghambat perjalanan
panjang kita. Wallahu ‘alam. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar